Warsiti Chadijah

Sabtu, 01 Maret 2014

Belajar "Melihat" kepada Kesejatian

Pagi tadi cerah bersemangat, matahari bersinar terang. Menjelang tengah hari tiba-tiba cuaca mendung tebal, hujan turun cukup deras hingga sore. Kehidupan serupa dengan keadaan cuaca, yang berubah-ubah dan dinamis, kadang mendung kadang hujan kadang cerah. Mampukah kita laksana langit yang anggun dengan birunya?
Langit tak akan menjadi hitam karena mendung, tidak akan pula menjadi putih karena awan. Bagaimanapun keadaan cuaca, langit tetap biru dan tak akan terpengaruh sampai kapanpun juga. Begitupun samudera dengan gelombangnya yang kadang naik kadang turun. Kita tidak bisa melekat pada salah satunya dan membenci yang lain. Yang harus kita lakukan adalah merangkul keduanya, menerima apa adanya kehidupan ini. Dengan begitu kita siap menerima kematian dan tidak menakutinya, sebagaimana kita juga menerima hidup.
Kematian bukanlah akhir kehidupan. Kelahiran dan kematian adalah fenomena kehidupan itu sendiri. Mulai hari ini belajarlah mengalihkan kesadaranmu dari kesadaran fisik/badan kepada kesadaran jiwa/ruh yang bersemayam dalam badan fisik itu sendiri. Badan adalah kendaraan sekaligus rumah bagi sang jiwa/ruh. Badan ini ada masa kadaluarsanya, ketika sudah berubah menjadi jasad/mayat setelah ditinggalkan oleh sang jiwa/ruh. Setelah jasad diperabukan akan terurai menjadi unsur pembentuknya dan kembali ke alam. Daging dan tulang kembali menjadi tanah, darah menjadi air, nafas dan energi menjadi angin, enzim-enzim pencernaan menjadi panas/api.
Sang jiwa/ruh tidak akan pernah mati dan akan melanjutkan perjalanan ke alam selanjutnya. Inilah sejatinya kita, sang jiwa/ruh yang kekal abadi. 

Jiwa kita asah dengan cintakasih, kepedulian, pelayanan tanpa pamrih dan senantiasa berbagi kebahagiaan dengan sesama. Dengan mengabdi dan melayani makhluknya itulah ibadah kita. Dengan begitu, mudah-mudahan hidup ini menjadi berkah bagi alam semesta.
Tidak terjebak pada hidup yang stagnan hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan golongannya saja. Terjebak pada pengejaran materi, gaya hidup hedonis dan kepuasan yang semu dan semakin menjauhkan dari kebahagiaan. Kita tidak perlu lari dari dunia dan menarik diri dari keramaiannya. Dengan mengasingkan diri ke hutan belantara sekalipun, masih tetap dunia. Dunia yang menghidupi kita. Dunia adalah tempat persinggahan, bukan tujuan akhir dari perjalanan. Hiruk pikuk dan gemerlapnya dunia tidak akan melenakan kesadaran kita. Sebagaimana teratai yang mekar bersih tak ternoda oleh lumpur yang telah menghidupinya.
Seandainya selama ini banyak diantara kita sibuk mempercantik penampilan fisik maka lebih percantiklah jiwa kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar