Warsiti Chadijah

Sabtu, 01 Maret 2014

Dibutuhkan : Etos Kerja Guru 'Kreatif dan Inovatif''

Jumlah pengangguran yang kian hari terus bertambah merupakan masalah yang harus ditangani secara serius. Bisa jadi hal ini merupakan salah satu fakta dari kegagalan sistem pendidikan di Negara kita. Meskipun tidak hanya terjadi di negara kita, masalah pengangguran sudah mewabah di beberapa belahan dunia. Apalagi diperparah dengan adanya krisis global. Berikut ini ada satu kisah yang dapat membuka hati kita akan sebuah realitas produk pendidikan. Pidato Kelulusan Pelajar SMA yang menggetarkan dan menggugat kesadaran kita atas makna sistem pendidikan, pidato ini diucapkan oleh Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010.“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.                Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.             Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik?Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupansaya? Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”            Pidato yang disampaikan oleh siswi tadi, persis pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Saat ini ketika saya sedang menempuh Program Kompetensi Mengajar, jujur ada kekhawatiran akankah saya nanti mampu ‘menyelamatkan’ siswa didik saya dari hal yang demikian atau tidak. Cukup menggelisahkan pertanyaan ini bagi saya. Saya bertekad untuk terus belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh dalam peran apapun yang saya jalani dalam kehidupan ini. Semoga Yang Kuasa berkenan berkarya dengan badan/diri ini.            Bagaimana dengan lulusan dari sekolah-sekolah di negara kita tercinta ini? Kebanyakan dari mereka masih berbondong-bondong mencari kerja. Yang siap menjadi budak di dalam sistem yang mengurungnya. Ini adalah sebuah realita. Hanya sedikit saja dari mereka yang dapat menciptakan lapangan kerja, paling tidak untuk dirinya sendiri terlebih dulu. Atau ada juga yang kreatif tapi dalam arti yang negatif, misalnya saja memilih cara-cara yang tidak dibenarkan dalam mencari penghidupan, seperti tindakan penipuan, mengheaker bank melalui system dan tindakan lain yang bersifat kriminal.             Itulah sedikit potret bangsa kita saat ini. Nasib bangsa ini tidak akan berubah kecuali kita sendiri secara sadar mengupayakan perubahan itu kearah yang lebih baik. Salah satunya dengan membangun kemandirian bangsa, dimulai dari diri kita masing-masing, dari hal-hal kecil dan sedini mungkin. Perubahan ini dapat kita usahakan melalui system pendidikan nasional kita.Tujuan pendidikan nasional dalam rangka mecerdaskan kehidupan bangsa harus kita wujudkan. Tentunya kecerdasan dalam arti luas yang mencakup terbentuknya kecakapan hidup agar individu mampu memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dan saya sangat setuju dengan pendapat Anand Krishna yang menyatakan bahwa “Seluruh sistem pendidikan kita, semua mata pelajaran yang diajarkan harus berorientasi pada budi perkerti. Jika anda telah melakukan hal itu yakinlah bahwa anda telah berhasil menunjukan jalan yang mulia kepada anak-anak anda”
Karena obyek pendidikan adalah manusia, yang diharapkan akan menjadi manusia yang seutuhnya. Tidak hanya cerdas secara otak/pikiran/akal tetapi juga berbudi pekerti yang luhur. Pendidikan yang dapat memanusiakan manusia.Lebih jauh Anand Krishna mengemukakan “Biarkanlah anak-anak anda tumbuh bersama. Terlepas dari latar belakang keluarga, kepercayaan, warna kulit dan suku bangsa mereka, biarkanlah mereka ke sekolah bersama. Jangan pisahkan mereka dalam ruangan yang terkotak-kotak. Singkirkan sistem pendidikan yang membuat anak-anak anda menjadi fanatik. Sistem pendidikan seperti itu akan membahayakan persatuan bangsa. Biarkan sistem pendidikan berorientasi pada budi pekerti, nilai-nilai manusia yang luhur, bukan pada kepercayaan anda yang beraneka ragam, yang selama ini telah mengkotak-kotakan anda dan membuat anda terpecah belah.Peran tenaga pendidik (guru) memang tidak mudah. Seorang guru dituntut selalu mengembangkan diri agar dapat menuangkan proses kreatif kepada anak didiknya. Idealnya seorang guru juga bisa menjadi teladan bagi peserta didiknya, mampu bersikap adil dan merangkul semuanya dengan cinta tanpa pilih kasih.Akan seperti apa potret generasi kita dimasa yang akan datang, sangat ditentukan oleh bagaimana guru dalam mendidik siswa dan siswinya di sekolah. Termasuk peran orang tua dalam mendidik putra putrinya dalam lingkungan keluarga. Sesuai jiwa dan nilai luhur yang dituangkan dalam Pancasila oleh founding father, pendidikan nasional kita harus berfungsi memanusiakan manusia. Agar tercapai generasi yang berbudi pekerti luhur, cerdas dan kreatif sehingga dapat menjawab tantangan kehidupannya yang akan membawa bangsa ini kepada kejayaannya. Kejayaan sesungguhnya ketika manusia mampu menjadi berkah bagi kebaikan hidup sesamanya dan alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar